Thursday, July 11, 2013

Apakah anda telah berterima kasih kepada diri anda?

Berterima kasih kepada diri kita sendiri merupakan pertanyaaan aneh, tetapi akan terasa jika kita mengabaikan diri kita sendiri. Tubuh kita di aliri oleh darah, jantung dan paru-paru yang membawa oksigen dan makanan keseluruh tubuh. Selain itu kita memiliki sepasang telinga, hidung, mata, kaki, tangan serta jari-jari yang sempurna.

Jika salah satu bagian diri kita sakit karena kita tidak menjaga kesehatan dengan baik maka seluruh tubuh pun akan merasakan sakit. Banyak orang yang sudah tahu bahwa sehat itu adalah anugrah yang tak terhingga, namun tahu bukan berarti kita sudah bersyukur. 

Kadang rasa tahu ini sudah menjadi hal yang biasa sehingga menjadi sesuatu yang sudah seharusnya (given). Kita merasa sehat adalah milik kita, seperti halnya nafas, makan, minum menjadi sesuatu yang tidak kita fikirkan hadirnya secara sadar.

Aku banyak bertemu dengan teman yang bercerita tentang pentingnya sehat, aku yakin andapun begitu. Namun ijinkan aku berbagi kisah seorang kawan lama. Kawan aku ini orang tuanya sangat berkecukupan, apapun yang diinginkan insyaallah bisa didapat. Keluarga yang sakinah, karier yang cemerlang dan bahkan mereka bolak balik tinggal di luar negeri seperti apabila kita pergi ke Jakarta-Bogor, intinya harta sepertinya bukan masalah buat mereka.

Suatu ketika, mereka sekeluarga berlibur ke Bangkok Thailand, kebetulan ayah kawan aku ini (aku panggil Paman) ingin reuni dengan kawan-kawan lamanya disana. Paman ini adalah pekerja keras, sangat disiplin baik waktu maupun kesehatannya. Semua terlihat lancar sampai suatu pagi di Bangkok, Paman tiba-tiba tidak bisa bergerak, dia tidak bereaksi dan tidak bisa berkata apa-apa. 

Rupanya paman terkena stroke, separuh badannya tidak bisa digerakkan., seluruh memori Paman hilang, bahkan tidak mampu berbicara.  

Saat itu, dunia serasa runtuh untuk keluarga Paman. Paman yang tadinya segar bugar, tumpuan keluarga, menjadi tak berdaya sakit di negeri orang. Harta yang dikumpulkan Paman di beberapa Bank tidak bisa di akses dari Bangkok karena Paman tidak pernah menceritakan PIN maupun dimana saja beliau menaruh tabungannya.
Kawan aku bilang, saat itu semua menjadi seperti tidak berarti. Dengan menangis dia bercerita, dia menyesal tidak menghabiskan waktu lebih banyak dengan ayahnya, adik-adiknya menyesal tidak pernah mau diminta tolong menemaninya olah raga. Aku yakin, penyesalan akan menghinggapi seluruh anggota keluarga. Hanya karena sakit, hidup semua orang disekitar kita akan berubah.

Bila suatu hari Anda menjadi seperti Paman, masih bisakah kita dan keluarga menikmati jerih payah kita selama ini?
Apa gunanya rumah indah yang kita bangun selama ini? Apa gunanya mobil yang anda bangga-banggakan? Apa gunanya posisi, jabatan, karir yang selama ini kita kejar?
Paman kehilangan pekerjaannya, perusahaan tempat Paman bekerja bahkan menarik semua fasilitas yang Paman dapatkan, bukan cuma gaji, tunjangan, jabatan yang ditarik, laptop, tas ransel bahkan uang gaji yang paman dapatkan diminta kembali oleh perusahaan tersebut…..


Mari sahabatku, Sebelum semua terlambat, berhentilah sebentar dari kesibukan kita, sempatkan sebentar untuk memahami tubuh, bicaralah dengan tubuh, katakan betapa berterimakasihnya kita kepada tubuh yang menopang ruh kita.

Berhentilah sebentar untuk merasakan apa yang tubuh Anda butuhkan, puasakan sejenak nafsu anda mengejar dunia dan berikan apa yang menjadi haknya. 


No comments:

Post a Comment